Sudahkah kamu makan hari ini?
*sebuah kelanjutan atas pemikiran seorang teman
God’s in His heaven, all’s right with the world.
Manusia: makhluk yang katanya paling mulia di muka Tuhan. Terlalu banyak misteri yang tersembunyi di balik eksistensinya. Konon, di masa yang belum tersebut oleh sejarah, terciptalah makhluk hidup. Semua makhluk hidup mulai dari tumbuhan alga hingga hewan sebesar Brontosaurus (bila memang ada) diciptakan dan hidup di atas bumi. Tapi tidak dengan manusia. Manusia diciptakan di sebuah tempat bernama nirwana (atau dikenal dengan surga) dan sempat hidup disana. Bahkan, Sang Pencipta, secara pribadi, memerintahkan seluruh makhluk, mulai dari tumbuhan sampai malaikat (yang lebih suci karena mereka tidak mungkin berbuat kesalahan dan tercipta dari unsur yang lebih mulia dibanding manusia) untuk menyembah di hadapan manusia. Manusia di anugerahi berbagai kemampuan yang melebihi makhluk lain: kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk berkehendak, kemampuan untuk menilai, dan yang paling penting adalah kemampuan untuk memilih. Manusia memiliki suatu kebebasan untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah bagi diri mereka sendiri. Dan Tuhan membiarkan mereka, hingga Hari Pengadilan nantinya. Kelebihan ini pula yang menyebabkan manusia diusir dari nirwana. Berdasarkan versi cerita beberapa agama, Iblis, raja setan yang menolak untuk menyembah kepada manusia, dengan segala tipu dayanya menggoda Adam dan Hawa untuk memakan “buah terlarang”. Karena mereka memiliki kemampuan untuk berbuat dan kebebasan untuk memilih, berbuatlah mereka; yang disayangkan karena ternyata perbuatan mereka saat itu adalah perbuatan yang salah: Diturunkannya mereka ke bumi. Berarti turunnya manusia ke bumi bukanlah merupakan sebuah sebab, namun lebih karena sebuah akibat.
Karena ada misi, jalan pun tercipta.
Sang terhukum mulai membangun kebudayaan, peradaban di tanah penahanannya. Terus mencari sebuah bentuk jatidiri untuk dirinya, anaknya, dan seluruh spesiesnya.Layaknya anak kecil yang baru belajar untuk berjalan, manusia menapak selangkah demi selangkah dalam membangun tanah huniannya, tidak hanya dalam eksistensi materiil namun juga dalam eksistensi filosofis.Keputusasaan manusia dapat terlihat dari sejarah Adam & Hawa. Bagaimana manusia sangat kehilangan pada saat Adam & Hawa diusir dari nirwana. Karena pada saat itu pula lah manusia kehilangan suatu nilai mutlak suatu eksistensi yang Maha Tinggi. Jalannya waktu yang menciptakan sejarah dengan berbagai distorsi nya, membuat manusia semakin lama, semakin haus dengan suatu nilai mutlak tersebut. Pencarian pun mulai dilakukan saat manusia kehilangan identitas atas dirinya lagi, karena dia kehilangan identitas atas diri penciptanya.Pergulatan pencarian ini bukanlah merupakan suatu pergulatan yang mudah. Berbagai aliran pemikiran dan lamanya pencarian yang hanya didasarkan pada logika manusia, membuat manusia putus asa dan kembali pada suatu kesimpulan awal, bentuk peradaban awal, dan mulainya suatu era post-modern yang ditandai dengan munculnya manusia-manusia absurd. Manusia absurd sungguh haus akan pengakuan atas keberadaan mereka. Jika sanggup mereka coret seluruh langit, maka akan mereka lakukan. Pergulatan yang tidak akan pernah berakhir. Bukan fenomena sebuah jaman, namun lebih merupakan fenomena kemanusiaan yang sangat kita agung-agungkan. “Haruslah dibayangkan Sisifis bahagia!” ungkap Albert Camus, memisalkan manusia layaknya Sisifus: melakukan sesuatu absurditas dengan tubuh penuh keringat namun senyum terus tergores bibir. Apakah benar? Apakah yang kita lakukan saat ini sangatlah absurd? Bila yang dilakukan oleh manusia sepanjang waktu adalah sesuatu yang absurd, maka dapat kita simpulkan bahwa kita mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak berguna; atau paling tidak, sama sekali tidak bertujuan?! Saya jadi teringat perkataan seorang teman: lalu untuk apa kita hidup di dunia, jikalau tidak ada kelanjutannya? Sedikit naif memang, namun ada benarnya. Apakah kita cerita hidup kita hanyalah sepotong sandiwara yang skenarionya telah tersusun rapi oleh Tuhan, dan kita ,aktor-aktornya, hanya memerankan peran tersebut sekali lalu tak berkelanjutan?!Nihilisme , sebuah aliran post-modernisme, secara implisit menyatakan: “Janganlah kamu khawatir dengan hari esok. Berpestalah kamu hari ini!”. Benarkah dengan pernyataan ini? Akan saya coba terjemahkan bahasa ini: Jangan khawatir dengan hari esok, karena kemungkinan hari esok itu tidak pernah ada. Bila hari esok tidak pernah ada, maka “hari esok”; pun tidak akan ada. Benarkah ini bentuk absurditas yang kita perankan?Jika kita terjemahkan lebih jauh lagi, yang jelas terlihat adalah suatu bentuk hedonisme besar-besaran. Bagaimana orang tidak peduli dengan sekelilingnya lagi, dan yang dipentingkan hanyalah kesenangan pribadinya, karena toh “hari esok”; itu takkan pernah ada. Bagaiamana para sastrawan, seniman, dan artis menciptakan suatu karya dengan bentuk estetis yang tinggi namun tanpa didasari oleh sebuah pemikiran mengapa karya tersebut tercipta, sehingga nilai menjadi miskin nilai arti meski nilai materiil nya begitu tinggi. Bagaimana para politisi sibuk berebut kursi, bangku, meja, almari dan berbagai meubel rumah tangga karena hanya saat ini sajalah yang mereka pikirkan.
Would it be great if everybody dies, so why are you here?
Memang tidak benar juga, jika kita selalu hidup pada sejarah, namun juga tidak benar jika kita hidup tanpa sejarah. Nihilisme, yang boleh dikatakan semua pemeluk agama dan para kaum humanis mempertentangkannya, ternyata telah menjadi sarapan sehari-hari, dan telah menjadi suatu tatanan kehidupan sosial kita.Dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari bagaimana telah terjadi kesenjangan antar kita sendiri. Dan memang benar, absurditas tengah terjadi di tengah-tengah kita. “Manusia yang absurd adalah manusia dengan kebebasan yang mutlak, “ lanjut Camus.Sangat benar jika Camus mangatakan manusia yang absurd memiliki suatu kebebasan mutlak untuk segala-galanya, karena dirinya tidak akan lagi peduli dengan ada atau tidak ada nya “hari esok”. Tidak peduli dengan sesamanya. Tidak peduli dengan dirinya. Tidak peduli dengan apa yang dikerjakannya benar atau salah. Bahkan sampai hal-hal yang terkecil pun tidak akan peduli lagi pada saat melakukannnya.Entah apa hal ini terjadi akibat suatu pergeseran nilai kebudayaan, yang menjadikan kita buta peradaban atau mengalami misidentifikasi peradaban: peradaban yang mengenal manusia hanyalah sebagai manusia absurd.Lalu, apakah kita akan menjadi salah satu dari manusia-manusia absurd tersebut? Sekarang biarlah aku bertanya padamu: Sudahkah kamu makan hari ini?
*tulisan pernah dimuat sebagai esai di cybersastra.net (Sudahkah kamu makan hari ini?) tanggal 21 September 2001.
God’s in His heaven, all’s right with the world.
Manusia: makhluk yang katanya paling mulia di muka Tuhan. Terlalu banyak misteri yang tersembunyi di balik eksistensinya. Konon, di masa yang belum tersebut oleh sejarah, terciptalah makhluk hidup. Semua makhluk hidup mulai dari tumbuhan alga hingga hewan sebesar Brontosaurus (bila memang ada) diciptakan dan hidup di atas bumi. Tapi tidak dengan manusia. Manusia diciptakan di sebuah tempat bernama nirwana (atau dikenal dengan surga) dan sempat hidup disana. Bahkan, Sang Pencipta, secara pribadi, memerintahkan seluruh makhluk, mulai dari tumbuhan sampai malaikat (yang lebih suci karena mereka tidak mungkin berbuat kesalahan dan tercipta dari unsur yang lebih mulia dibanding manusia) untuk menyembah di hadapan manusia. Manusia di anugerahi berbagai kemampuan yang melebihi makhluk lain: kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk berkehendak, kemampuan untuk menilai, dan yang paling penting adalah kemampuan untuk memilih. Manusia memiliki suatu kebebasan untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah bagi diri mereka sendiri. Dan Tuhan membiarkan mereka, hingga Hari Pengadilan nantinya. Kelebihan ini pula yang menyebabkan manusia diusir dari nirwana. Berdasarkan versi cerita beberapa agama, Iblis, raja setan yang menolak untuk menyembah kepada manusia, dengan segala tipu dayanya menggoda Adam dan Hawa untuk memakan “buah terlarang”. Karena mereka memiliki kemampuan untuk berbuat dan kebebasan untuk memilih, berbuatlah mereka; yang disayangkan karena ternyata perbuatan mereka saat itu adalah perbuatan yang salah: Diturunkannya mereka ke bumi. Berarti turunnya manusia ke bumi bukanlah merupakan sebuah sebab, namun lebih karena sebuah akibat.
Karena ada misi, jalan pun tercipta.
Sang terhukum mulai membangun kebudayaan, peradaban di tanah penahanannya. Terus mencari sebuah bentuk jatidiri untuk dirinya, anaknya, dan seluruh spesiesnya.Layaknya anak kecil yang baru belajar untuk berjalan, manusia menapak selangkah demi selangkah dalam membangun tanah huniannya, tidak hanya dalam eksistensi materiil namun juga dalam eksistensi filosofis.Keputusasaan manusia dapat terlihat dari sejarah Adam & Hawa. Bagaimana manusia sangat kehilangan pada saat Adam & Hawa diusir dari nirwana. Karena pada saat itu pula lah manusia kehilangan suatu nilai mutlak suatu eksistensi yang Maha Tinggi. Jalannya waktu yang menciptakan sejarah dengan berbagai distorsi nya, membuat manusia semakin lama, semakin haus dengan suatu nilai mutlak tersebut. Pencarian pun mulai dilakukan saat manusia kehilangan identitas atas dirinya lagi, karena dia kehilangan identitas atas diri penciptanya.Pergulatan pencarian ini bukanlah merupakan suatu pergulatan yang mudah. Berbagai aliran pemikiran dan lamanya pencarian yang hanya didasarkan pada logika manusia, membuat manusia putus asa dan kembali pada suatu kesimpulan awal, bentuk peradaban awal, dan mulainya suatu era post-modern yang ditandai dengan munculnya manusia-manusia absurd. Manusia absurd sungguh haus akan pengakuan atas keberadaan mereka. Jika sanggup mereka coret seluruh langit, maka akan mereka lakukan. Pergulatan yang tidak akan pernah berakhir. Bukan fenomena sebuah jaman, namun lebih merupakan fenomena kemanusiaan yang sangat kita agung-agungkan. “Haruslah dibayangkan Sisifis bahagia!” ungkap Albert Camus, memisalkan manusia layaknya Sisifus: melakukan sesuatu absurditas dengan tubuh penuh keringat namun senyum terus tergores bibir. Apakah benar? Apakah yang kita lakukan saat ini sangatlah absurd? Bila yang dilakukan oleh manusia sepanjang waktu adalah sesuatu yang absurd, maka dapat kita simpulkan bahwa kita mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak berguna; atau paling tidak, sama sekali tidak bertujuan?! Saya jadi teringat perkataan seorang teman: lalu untuk apa kita hidup di dunia, jikalau tidak ada kelanjutannya? Sedikit naif memang, namun ada benarnya. Apakah kita cerita hidup kita hanyalah sepotong sandiwara yang skenarionya telah tersusun rapi oleh Tuhan, dan kita ,aktor-aktornya, hanya memerankan peran tersebut sekali lalu tak berkelanjutan?!Nihilisme , sebuah aliran post-modernisme, secara implisit menyatakan: “Janganlah kamu khawatir dengan hari esok. Berpestalah kamu hari ini!”. Benarkah dengan pernyataan ini? Akan saya coba terjemahkan bahasa ini: Jangan khawatir dengan hari esok, karena kemungkinan hari esok itu tidak pernah ada. Bila hari esok tidak pernah ada, maka “hari esok”; pun tidak akan ada. Benarkah ini bentuk absurditas yang kita perankan?Jika kita terjemahkan lebih jauh lagi, yang jelas terlihat adalah suatu bentuk hedonisme besar-besaran. Bagaimana orang tidak peduli dengan sekelilingnya lagi, dan yang dipentingkan hanyalah kesenangan pribadinya, karena toh “hari esok”; itu takkan pernah ada. Bagaiamana para sastrawan, seniman, dan artis menciptakan suatu karya dengan bentuk estetis yang tinggi namun tanpa didasari oleh sebuah pemikiran mengapa karya tersebut tercipta, sehingga nilai menjadi miskin nilai arti meski nilai materiil nya begitu tinggi. Bagaimana para politisi sibuk berebut kursi, bangku, meja, almari dan berbagai meubel rumah tangga karena hanya saat ini sajalah yang mereka pikirkan.
Would it be great if everybody dies, so why are you here?
Memang tidak benar juga, jika kita selalu hidup pada sejarah, namun juga tidak benar jika kita hidup tanpa sejarah. Nihilisme, yang boleh dikatakan semua pemeluk agama dan para kaum humanis mempertentangkannya, ternyata telah menjadi sarapan sehari-hari, dan telah menjadi suatu tatanan kehidupan sosial kita.Dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari bagaimana telah terjadi kesenjangan antar kita sendiri. Dan memang benar, absurditas tengah terjadi di tengah-tengah kita. “Manusia yang absurd adalah manusia dengan kebebasan yang mutlak, “ lanjut Camus.Sangat benar jika Camus mangatakan manusia yang absurd memiliki suatu kebebasan mutlak untuk segala-galanya, karena dirinya tidak akan lagi peduli dengan ada atau tidak ada nya “hari esok”. Tidak peduli dengan sesamanya. Tidak peduli dengan dirinya. Tidak peduli dengan apa yang dikerjakannya benar atau salah. Bahkan sampai hal-hal yang terkecil pun tidak akan peduli lagi pada saat melakukannnya.Entah apa hal ini terjadi akibat suatu pergeseran nilai kebudayaan, yang menjadikan kita buta peradaban atau mengalami misidentifikasi peradaban: peradaban yang mengenal manusia hanyalah sebagai manusia absurd.Lalu, apakah kita akan menjadi salah satu dari manusia-manusia absurd tersebut? Sekarang biarlah aku bertanya padamu: Sudahkah kamu makan hari ini?
*tulisan pernah dimuat sebagai esai di cybersastra.net (Sudahkah kamu makan hari ini?) tanggal 21 September 2001.

2 Comments:
http://finance.groups.yahoo.com/group/tda-bandung/
kok bs sih ada orang komentar kayak di atas gue? itu mesin spam emang? *aing kagag ngarti*
hebad lu, keren esainya. mm,, sepertinya Baju Agama Agnostik bisa diterapkan. tar dulu aing korslet bacanya (taun 2001 lu bikin itu? gwa sedang engga hidup. agak-agak datar gitu kayak robot setelan otomatis..)
Post a Comment
<< Home