Friday, April 08, 2005

Langit Merah

Sudah beratus abad
tujuh langit memancarkan
kasih. Mawar merah merekah
dan mati….berganti darah.

Anyir-nya semilir hawa
dengan Adam yang bersedih
dan gurauan satir Sang iblis.

“Apakah Tuhan tidur?”
Tanya Sang Anak pada Sang Kala.
Terompet Israil semakin jelas bersuara.

Ini bukan kiamat,
hanya saja matahari terbit
di ufuk barat.

Sampai makhluk dari tanah
menyalakan rasa dan semesta
cinta memeluk tubuh
sebelum nyawa keluar dari kerongkongan.


NCDJ, 280101


*pernah dimuat sebagai puisi di cybersastra.net (Bagaikan Pompei) tanggal 21 September 2001.


1 Comments:

Blogger budibadabadu said...

puisinya bagus, man! sip.

July 12, 2005 3:37 PM  

Post a Comment

<< Home